Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Perubahan Sosial

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 21 April 2017
di Kuliah - 0 komentar

Perubahan sosial adalah keadaan dinamis yang terjadi pada kelompok sosial, interaksi sosial, stratifikasi sosial dan institusi sosial. Dengan kata lain, perubahan sosial adalah keadaan dinamis dalam masyarakat. Wiraatmaja (1972) yang dimaksud dengan perubahan sosial adalah perubahan terhadap proses-proses sosial atau mengenai susunan masyarakat.  Sedangkan perubahan budaya lebih luas dan mencakup segala segi kebudayaan, seperti kepercayaan, pengetahuan, bahasa, teknologi, dan sebagainya.  Dalam pengertian lain, perubahan sosial dapat diartikan sebagai perubahan dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, nilai, sikap dan pola perilaku sosial individu dan kelompok masyarakat. Sementara,  perubahan budaya diartikan sebagai perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama dalam berbagai bidang kehidupan dari masyarakat yang bersangkutan. Dalam kaitannya dengan perubahan sosial dan perubahan budaya di atas, maka konsep perubahan sosial budaya mencakup kedua unsur dari perubahan tersebut, di mana, perubahan sosial budaya merupakan keadaan dinamis yang terjadi dalam proses-proses sosial dan budaya yang mempengaruhi struktur dan kebudayaan masyarakat.
Menurut teori “Hukum Tiga Tahap”, Comte melihat perubahan sosial budaya masyarakat melalui tiga tahap. Pada tahap pertama Comte melihat bahwa semua hubungan sosial bersifat militer dan masyarakat senantiasa bertujuan menundukkan masyarakat lain. Tahap pertama ini disebut sebagai tahap Teologis dan Militer. Kemudian pada  tahap kedua, yaitu tahap Metafisik dan Yuridis, manusia sudah mulai melakukan imajinasi yang bersifat abstrak yang sesungguhnya dibuat oleh manusia itu juga. Selanjutnya pada tahap ketiga, yang disebut sebagai tahap Ilmu Pengetahuan dan Industri, manusia sudah mulai melakukan studi tentang hukum-hukum alam dan menjadikan pemikiran-pemikiran yang ilmiah dan positif (positivisme) sebagai dasar kehidupannya, sehingga imajinasi telah digeser oleh pengamatan dan konsepsi-konsepsi teoretik yang bersifat positif (ilmiah). 
Ada berbagai macam proses yang menyebabkan perubahan sosial budaya, di antaranya adalah akulturasi, asimilasi, difusi, inovasi, modernisasi dan globalisasi. Sedangkan dilihat dari bentuknya, perubahan sosial budaya dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu 1) Perubahan secara lambat dan Perubahan secara cepat, 2) Perubahan yang pengaruhnya kecil dan Perubahan yang pengaruhnya besar, dan 3) Perubahan yang dikehendaki/direncanakan dan Perubahan yang tidak dikehendaki/direncanakan
Modernisasi adalah proses perubahan tradisi, sikap, dan sistem nilai dalam rangka menyesuaikan diri dengan kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa lain. Sedangkan globalisasi adalah suatu sistem atau tatanan yang menyebabkan seseorang atau negara tidak mungkin untuk mengisolasikan diri sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan komunikasi dunia. Konsep modernisasi sering dengan konsep westernisasi, industrialisasi, demokrasi, dan ekonomi pasar. 
Koenjaraningrat mendefinisikan modernisasi sebagai usaha penyesuaian hidup dengan konstelasi dunia yang dilandasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak hanya bersifat fisik material saja, tetapi lebih jauh daripada itu, dan dilandasi oleh sikap mental yang mendalam yang maju, berpikir rasional, berjiwa wiraswasta, berorientasi ke masa depan dan seterusnya. Schorrl juga memberikan definisi yang tidak jauh berbeda penekanannya, di mana ia mendefinisikan modernisasi sebagai proses penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam semua segi kehidupan manusia dengan tingkat yang berbeda-beda tetapi tujuan utamanya untuk mencari taraf hidup yang lebih baik dan nyaman dalam arti yang seluas-luasnya, sepanjang masih dapat diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. Definisi yang hampir serupa juga dikemukan oleh Smith, di mana modernisasi didefinisikan sebagai proses yang dilandasi oleh seperangkat rencana dan kebijakan yang disadari untuk mengubah masyarakat ke arah kehidupan masyarakat yang kontemporer yang menurut penilaian lebih maju dalam derajat kehormatan tertentu. Dengan kata lain, modernisasi mengandung unsur-unsur 1) perubahan yang  bergerak maju secara linier, 2) adanya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan, 3) didukung dengan adanya perkembangan teknologi di berbagai kehidupan manusia, serta 4) mempengaruhi pola pikir dan perilaku manusia yang berusaha mengejar kehidupan yang lebih maju dan modern.
Arief Budiman melihatnya adanya lima varian teori Modernisasi yaitu (1) teori Harrod-Domar, yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi. (2) teori McClelland yang menekankan pada aspek-aspek psikologi individu, yaitu melalui pendidikan individual kepada anak-anak di lingkungan keluarga, dan pembangunan akan terlaksana apabila terdapat jumlah wiraswasta yang banyak. (3) teori Weber yang menekankan pada nilai-nilai budaya yang mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu, (4) Teori Rostow, yang menekankan pada adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan, dan (5) teori Inkeles dan Smith yang menekankan lingkungan material, dalam hal ini lingkungan pekerjaan, sebagai salah satu cara terbaik untuk membentuk manusia modern yang dapat membangun. 
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Ada yang memandang globalisasi sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.  Anthony Giddens, memberikan definisi yang menarik tentang globalisasi. Gidden mendefinisikan globalisasi sebagai ”the intensivication of world-wide social relations which link distant localities in such a way that lokal happenings are shaped by events occurring many miles away and vice verse”. Dengan demikian terdapat 3 konsep utama  dari globalisasi tersebut, yaitu 1) Disembedding, yaitu hubungan-hubungan sosial yang tidak lagi berada pada konteks lokal tetapi lebih pada situasi yang global, 2) Space-time distanciation, yaitu proses melalui mana jarak dan waktu menjadi lebih padat sehingga kejadian-kejadian di dunia dapat dirasakan dengan cepat melalui media, dan 3) Localisation, yaitu proses yang menempatkan suku bangsa, bahasa, budaya, ekonomi, dan gaya hidup muncul sebagai identitas individu yang penting.
Globalisasi juga dapat dilihat sebagai suatu proses mendunia yang ditandai dengan semakin hilangnya batas-batas dunia (a borderlles world: one world, different but never divide), tidak lepas dari perkembangan pemikiran manusia. Akan tetapi, secara umum, globalisasi terdiri atas 3 (tiga) dimensi, yaitu 1) Ekonomi, 2) Politik, dan 3) Budaya. 
Implikas dari globalisasi maka persaingan antar manusia tidak hanya terjadi di dalam satu wilayah negara, akan tetapi menjangkau wilayah di seluruh dunia. Untuk dunia pendidikan, adanya tuntutan dalam dunia ketenagakerjaan, baik di tingkat lokal maupun global, memberikan dampak cukup besar. Sementara di dunia kerja, globalisasi memberikan dampak yang lebih berat pada tuntutan profesionalisme yang tinggi dan kinerja yang dapat diunggulkan di dunia internasional.
Pada dasarnya perubahan itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, peradaban (civilzation) dan kesempurnaan hidup. Perubahan adalah hasil dari perkembangan pemikiran manusia itu sendiri yang pada akhirnya memberikan dampak pada dinamika kehidupan yang dijalaninya. Derasnya pengaruh dari luar masuk ke Indonesia datang dari berbagai saluran. Yang paling signifikan selain media massa dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi adalah dunia pariwisata. Salah satu tanggung jawab sosial kaum intelektual adalah menjadi agen perubahan masyarakat atau perubahan sosial budaya. Oleh karena itu, keberadaan mata kuliah ISBD sebagai suatu ilmu yang memiliki kompetensi penguasaan pengetahuan tentang keragaman, kesederajatan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat, serta memahami dan menghormati estetika, etika dan nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman bagi keteraturan dan kesejahteraan hidup dalam menata hidup kebersamaan dalam masyarakat, menjadi sangat penting. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    57.758