Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Interaksi Sosial

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 10 March 2017
di Kuliah - 0 komentar

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu

Interaksi merupakan tempat terbentuknya suatu makna, di mana makna ini didapat atau diketahui dari hasil kita berhubungan dengan orang lain. Bila individu yang melakukan hubungan memiliki nilai yang berbeda terhadap sesuatu atau simbol maka makna dapat berubah, perubahan makna terjadi melalui proses penafsiran dari interaksi sosial.

Apa yang diperlukan untuk terjadinya suatu interaksi sosial. Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan terjadi komunikasi.

• Kontak Sosial

Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial. Kontak sosial dapat terjadi meskipun seorang individu tidak berjumpa dengan individu lain, melainkan menggunakan perantara seperti dengan menggunakan salah satu alat telekomunikasi, misalnya telepon.

• Komunikasi

Arti penting dari komunikasi adalah pemberian tafsiran atas penyampaian informasi oleh orang lain. Informasi yang disampaikan dapat berbentuk pembicaraan, gerak tubuh atau sikap. Setelah menafsirkan, orang tersebut kemudian memberikan reaksi


Bentuk-bentuk interaksi tidak dapat dilepaskan dari proses yang menyertainya.

• Proses assosiatif

proses interaksi yang lebih mengarah ke arah bersatunya dua individu atau kelompok dalam mencapai tujuan tertentu.

  1. Kerjasama : Kerja sama ini timbul karena orientasi setiap individu ditujukan pada kelompoknya (in-groupnya) dan kelompok lainnya (out-group) dalam mencapai tujuan.
  2. Akomodasi : usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan. usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan.
  3. Asimilasi : pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok


• Proses diasosiatif

proses yang menuju ke arah perpecahan

  1. Persaingan : suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan.
  2. Kontravensi : bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Yang ditandai oleh gejala-gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, serta kebencian atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.
  3. Konflik : proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.

 

 Salah satu bentuk pendekatan dalam mempelajari interaksi sosial adalah pendekatan dramaturgy. Pendekatan dari Erving Goffman ini menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Fakta subyektif dari interaksi sosial adalah fakta yang memperlihatkan ciri setiap individu sedangkan fakta obyektif adalah fakta yang memperlihatkan nilai dan norma dalam masyarakat. Setiap interaksi sosial menurut pendekatan ini sama halnya dengan panggung teater.

Interaksionisme Simbolik

 Diantara berbagai pendekatan yang dikenal dengan nama interaksionisme simbolik. Pendekatan ini berasal dari pemikiran seorang tokoh bernama George Herbert Mead. Symbol sendiri merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya berasal dari atau ditentukan oleh sifat sifat yang secara intrinsic terdapat di dalam bentuk fisiknya. Suatu symbol hanya ditangkap melalui cara nonsensoris atau melalui simbolik. Sebagai contoh makna suatu warna tergantung siapa yang emgartikannya. Misalnya seorang perempuan yang emnggunakan baju berwarna merah. Orang akan memberi penilaian sebagai pemakaian baju warna merah dapat menonjolkan sisi keberanian seseorang atau bahkan sering dianggap memniliki joai simbolik. Seperti diidentikan dengan komunis, fans sepak bola tertentu atau yang lainnya.

Herbert Blumer menjelaskan pemikiran Mead dengan membagi emnjadi tiga interaksionisme simbolik yaitu:

  1. Act (tindakan)
  2. Thing (sesuatu)
  3. Meaning (makna)

 Misalnya: seorang penganut umat islam beribadah (act) di area Ka’bah (thing) yang memiliki makna penyembahan terhadap Allah (meaning). Begitu juga dengan agama Hindu, Kristen, Budha, Katolik, Konghucu dan lain lain.

Definisi Situasi

Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interaksi amnsusia merupakan pemberian tanggapan atau respon terhadap rangsangan, menurut Thomas seseorang tidak segera memberikan reaksi manakala dia mendapat rangsangan dari luar. Tindakan seseorang didahului suatu tahapan penilaian dan pertimbangan. Rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakan definisi atau penafsiran sesuatu. Misalnya jika seorang perempuan emndapat ucapan salam dari seorang laki laki yang tidak dikenal, maka seorang perempuan melakukan tindakan definisi situasi sebelum melakukan tindakan menjawab salam atau justru mengabaikannya. Pemaknaan dari apa yang dilakukan karena kemungkinan seorang laki laki tersebut hanya menyalami dirinya yang memang kenal dengan dirinya atau justru hanya untuk menggoda saja.

Aturan yang mengatur Interaksi

Dalam bukunya Symbols, Selves, and society: undersatanding Ineraction David A. Karp dan W.C. Yoels menyebutkan tiga aturan yang mengatur interaksi yaitu: mengenai ruang, waktu, gerak dan sikap tubuh. Dalam bukunga: The Hidden Dimension, Hall mengemukakan bahwa dalam interaksi dijumpai aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Pengamatan terhadap penggunaan ruang beserta teori teorinya oleh Hall dinamakan Proxemics. Dari penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat jarak. 1. Jarak intim, 2. Jarak pribadi, 3. Jarak sosial, 4. Jarak publik.

Seperti contoh, seorang perempuan menjauh dari seorang laki laki yang tidak dikenalnya. Karena perempuan ini tidak menginginkan laki laki tersebut untuk menjauh dari ruang intimnya.

Goffman dan Prinsip Dramaturgi

Erving Goffman menggunakan prinsip Dramaturgi yang oleh Margaret Poloma didefiniskan sebagai pendekatan yang menggunakan pendekatan bahsa dan khayalan teather untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Goffman dalam menemukan teori Dramaturgi ini diilhami oleh pendapat Sheakespeare bahwa dunia merupakan sutau pentas dan semua laki laki dan perempuan merupakan pemain.

Pwnggunaan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan kenyataan sosial terlihat dari konsep yang dipakai Goffman untuk menggambarkan situasi perjumpaan. Kegiatan seorang peserta untuk mempengaruhi peserta lain dalam suatu interaksi atau perjumpaa. Misalnya, penampilan. Tempat kegiatan berlangsung secara teratur yang dikelilingi hambatan terhadap persepsi dinamakan social establishment. Tepat penyajian penampilan tersbeut sidebut front stage. Lalu ada juga back stage. Front stage menyajikan sesuatu yang ditampilkan. Back stage adalah sesuatu yang tidak sepadan dengan apa yang ditampilkan di depan. Sebagai contoh seorang yang tertawa lepas dan Nampak bahagia ternyata memiliki beban hidup yang sangat besar. Seorang ayah yang Nampak bahagia di depan anaknya ternyata memiliki hutang yang banyak.

Sehingga interaksi sosial tidak terbatas hanya hubungan manusia satu dengan manusia lainnya. Namun, lebih jauh banyak mempelajari aturan, karakteristik bahkan sampai teori dramaturgi.

 

Sumber :

Nur Afni Khafsoh, S.Sos.I., M.Sos

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">
   

Pengunjung

    56.419