Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Manusia Sebagai Makhluk Budaya

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 06 March 2017
di Kuliah - 0 komentar

Dalam pengertian sempit kebudayaan sering kali diartikan sebagai adat tradisi atau kebiasaan sehingga sering kali dicontohkan dengan upacara adat. Untuk pengertian yang lebih luas maka kebudayaan sering kali dipahami sebagai cara manusia mengelola kehidupannya, contohnya adalah adaptasi masyarakat terhadap lingkungan alam. Kebudayaan juga sering kali dipahami secara awam, di mana orang awam menyebutkan kesenian, rumah adat, upacara adat atau bangunan kuno sebagai kebudayaan. Namun bagi para ahli kebudayaan, mereka selalu berusaha memberikan rumusan dalam rangka menyajikan pengertian kebudayaan secara lebih menyeluruh.

 

Kebudayaan berasal dari kata buddhayah (bahasa sangsekerta) yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Edward  B. Taylor menjelaskan kebudayaan merupakan kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan,kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, serta lain-lain kecakapan dan kebiasaan yangdiperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan, Koentjaraningrat melihat kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Pada dasarnya pengertian kebudayaan meliputi sistem gagasan, sistem kelakuan dan hasil karya. Terkait dengan hal ini, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan memiliki tiga wujud yaitu sebagai 1) suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, 2) kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan 3) benda-benda hasil karya manusia.

 

Suatu kebudayaan tercipta sebagai hasil interaksi antara manusia dengan alam. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks baik menyangkut masalah fisik, pola perilaku, daya nalar, bahkan kehidupan yang dihadapi. Manusia memiliki berbagai kemampuan dalam mengatasi kompleksitas kebutuhan hidupnya antara lain melalui 1) akal, intelegensia, dan intuisi, 2) perasaan dan emosi, 3) kemauan, 4) fantasi, 5)Perilaku, 6) eksternalisasi, 7) objektivasi, dan 8) internalisasi. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk budaya merupakan makhluk pencipta kebudayaan.

 

Salah satu kharakteristik kebudayaan adalah sifatnya yag dinamis. Terdapat beberapa sebab yang dapat melatarbelakangi terjadinya perubahan/dinamika kebudayaan, di antaranya adalah 1) perubahan lingkungan alam, 2) perubahan karena kontak dengan suatu kelompok lain, dan 3) Perubahan karena adanya penemuan (discovery)

 

Pada akhir abad XX ada kecenderungan proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat dunia yang dinamakan globalisasi. Walters, berpandangan bahwa globalisasi berlangsung di tiga bidang kehidupan yaitu perekonomian, politik dan budaya. Globalisasi ekonomi berlangsung di bidang perdagangan, produksi, investasi, ideologi organisasi, pasar modal dan pasar tenaga kerja. Globalisasi politik terjadi di bidang kedaulatan negara, fokus kegiatan pemecahan masalah, organisasi internasional, hubungan internasional dan budaya politik. Globalisasi budaya terjadi dalam bidang apa yang dinamakan ide keagamaan (sacriscape), etnisitas (ethnoscape), pola pertukaran benda berharga (econoscape), produksi dan distribusi gambaran yang sama ke seluruh dunia (mediascape), serta pariwisata (leisurescape). Prof Fuad Hasan berpandangan bahwa peningkatan pertemuan kebudayaan global akan saling mempengaruhi, tetapi pertemuan antarbudaya itu tidak berlangsung secara timbal balik, melainkan tetap cenderung bersifat satu arah. Pihak yang didukung oleh teknologi canggih akan lebih berfungsi sebagai pengalih (transmitter) nilai-nilai kebudayaan dan norma-norma kemasyarakatan.

 

Salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya adalah akal dan budi. Akal adalah kemampuan pikir makhluk manusia yang merupakan kodrat alami yang dimiliki manusia. Budi, yang berarti akal, berasal dari kata budhi (bahasa Sanskerta), yang diartikan sebagai batin manusia, serta panduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu.

 

Pada saat seorang anak manusia dilahirkan di dunia, manusai merupakan makhluk yang keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada makhluk manusia lainnya dan kebudayaan yang ada di sekitarnya. Melalui proses ini seorang anak manusia berproses menjadi manusia seutuhnya. Dalam memahami proses menjadi manusia tersebut, maka perlu diketahui dan dipahami konsep-konsep budaya dasar yang penting di dalam kehidupan manusia. Konsep-konsep tersebut di antaranya cinta, keindahan, kegelisahan, penderitaan, keadilan, 6.pandangan hidup, tanggung  jawab, dan pengabdian.

 

Hubungan antara manusia dengan kebudayaan tidak dapat terpisahkan. Tidak akan ada kebudayaan tanpa ada manusia, dan manusia tidak akan pernah mencapai puncak potensinya sebagai manusia tanpa kebudayaan. Proses perkembangan kebudayaan tidak akan pernah berhenti seiring dengan terus mengalirnya kebutuhan manusia sebagai pemilik kebudayaan tersebut yang juga tidak pernah berhenti. Manusia dengan kemampuan akal dan budinya, terus mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi memenuhi keperluan hidupnya, dan ini diperoleh dengan cara belajar. Dari proses belajar itu selanjutnya muncul apa yang dinamakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan, karena sangat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar (tindakan naluriah). Bahkan berbagai tindakan manusia yang sifatnya naluriah pada akhirnya juga diubah menjadi tindakan kebudayaan. Proses pembudayaan dapat diperoleh melalui proses belajar baik dalam bentuk formal maupun informal.

Proses pembudayaan antara lain melaui 1) internalisasi, sosialisasi, enkulturasi, dan akulturasi.

 

Pada proses internalisasi kebudayaan diserap ke dalam struktur kesadaran subjektif manusia, sehingga menentukan manusia tersebut. Manusia mempelajari kebudayaan tersebut sehingga terbentuk olehnya, mengidentifikasikan diri dengannya, serta kebudayaan itu masuk ke dalam dirinya dan menjadi miliknya. Individu tidak hanya memiliki kebudayaan tersebut tetapi juga mewakili dan menyatakannya. Pada proses ini kita dapat melihat bagaimana fakta objektif dari dunia sosial menjadi fakta subjektif dari individu.

 

Menurut Berger sosialisasi, merupakan proses melalui mana seorang anak belajar menjadi anggota dan berpartisipasi dalam masyarakat. Sosialisasi mengajarkan berbagai peran. Menurut Mead, setiap anggota baru di masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada. Proses ini dinamakan proses pengambilan peran. Dalam proses ini seorang anak belajar untuk mengetahui peran yang harus dijalankan serta peran yang harus dijalankan orang lain. Melalui penguasaan peran di masyarakat seseorang dapat berinteraksi dengan orang lainnya. Pada tahap awal, sosialisasi seorang anak biasanya terbatas pada sejumlah kecil orang lain,  yang biasa merupakan anggota keluarga (significant others) terutama ayah dan ibu. Kemudian di tahap lebih jauh, sosialisasi seseorang menjadi lebih luas. Ia dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain di dalam masyarakat (generalized others). Seseorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berhubungan dengan orang lain.

 

Enkulturasi adalah proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Melalui proses ini manusia mengetahui cara yang secara sosial tepat untuk memenuhi kebutuhannya yang ditentukan secara biologis. Dalam hal ini penting untuk membedakan antara kebutuhan yang bukan hasil belajar (biologis) dengan cara-cara yang dipelajari untuk memenuhinya (kebudayaan). Proses ini diawali sejak usia dini seorang manusia. Di dalam berbagai masyarakat, proses enkulturasi di awali dari anggota keluarga inti. Setelah itu, ketika umur individu bertambah,  maka, orang-orang di luar keluarga dilibatkan dalam prosesnya. Pihak-pihak di luar keluarga dapat terlibat secara informal misalnya dalam kelompok-kelompok bermain atau secara formal misalnya dalam insitusi pendidikan, agama dan lainnya

 

Akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda saling berhubungan secara langsung dengan intensif, sehingga timbul perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau ke dua kebudayaan yang bersangkutan. Akulturasi dapat terjadi antara kebudayaan dua masyarakat yang posisinya relatif sama, namun juga dapat terjadi antara dua masyarakat yang posisinya tidak sama.

 

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kebudayaan mempunyai kemampuan berubah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah. Fuad Hasan mengemukakan bahwa selama suatu kebudayaan masih memiliki masyarakat yang mengemban kebudayaan tersebut, maka setiap tahap di dalam perkembangan kebudayaan akan menjadi pijakan bagi perkembangan tahap-tahap selanjutnya. Setiap kebudayaan yang hidup memiliki dua daya yang saling berlawanan yaitu daya preservatif (melestarikan) dan daya progresif (pembaharuan). Dalam rentang antara dua daya inilah kebudayaan menampilkan sifatnya yang dinamis. Keadaan yang dinamis dari suatu kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan interaksi antara daya preservatif dengan daya progresif, di mana kemudian proses adanya upaya pelestarian dan kemajuan dari suatu kebudayaan merupakan tanggung jawab masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri.

 

Manusia dan Peradaban 

 

Manusia yang beradab berarti manusia yang mempunyai akhlak, kesopanan dan budi pekerti. Ketiga elemen ini hadir, ketika seorang individu manusia baru lahir atau dengan kata lain bahwa ketiga elemen tersebut tidak terlahirkan bersama-sama dengan bayi manusia. Tetapi ketiga elemen ini merupakan bagian dari sistem nilai, norma dan aturan, atau dengan kata lain bagian dari suatu kebudayaan yang dipelajari oleh warga pemilik kebudayaan. Jadi, manusia yang beradab hampir sama sebangun dengan konsep manusia yang berbudaya.

 

Masyarakat atau warga pemilik suatu kebudayaan sering dijelaskan sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Di sini elemen yang penting untuk membentuk suatu masyarakat adalah kumpulan individu, interaksi sosial, sistem norma yang berkelanjutan, serta adanya identitas sosial. Jadi, masyarakat beradab merupakan kumpulan manusia yang mempunyai tiga elemen di atas tersebut.

 

Peradaban (civilization) didefinisikan Huntington sebagai berikut, ”...the highest social grouping of people and the broadest level of cultural identity people have short of that which distinguish humans from other species…”. Dalam penjelasan Huntington (1996) tentang hal ini dapat dilihat adanya empat penjabaran. Pertama, bahwa suatu peradaban berlawanan dengan istilah yang disebut sebagai ”barbarisme”. Biasanya suatu peradaban, berkaitan dengan ciri urban (kota), hidup menetap dan terpelajar. Kedua, peradaban merupakan sebuah entitas kultural, di mana di dalamnya tercakup nilai-nilai, norma-norma, pola-pola pikir, institusi-institusi yang menjadi bagian terpenting dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ketiga, sebuah peradaban adalah suatu totalitas. Keempat, peradaban adalah fakta kesejarahan yang membentang dalam kurun waktu yang sangat panjang dan memiliki sifat yang dinamis. Kelima, karena peradaban bukan entitas politik, maka suatu peradaban tidak berpegang pada suatu tatanan, penegakan keadilan, kesejahteraan bersama, upaya perdamaian, mengadakan berbagai negosiasi atau menetapkan berbagai ”kebijakan” yang biasa dilakukan oleh suatu pemerintahan. Komposisi politis peradaban yang sangat bervariasi menyajikan pembedaan-pembedaan di dalam peradaban itu sendiri. Suatu peradaban bisa mencakup satu atau beberapa kesatuan politis. Kesatuan tersebut dapat berupa negara-kota, kekaisaran-kekaisaran, federasi-federasi, konfederasi-konfederasi, negara-negara atau negara-negara multinasional.

 

Contoh peradaban Islam, peradaban ini mulai berkembang dari abad VII M menyebar secara cepat hingga Afrika Utara, semenanjung Iberia, Asia Tengah, Anak Benua, hingga Asia Tenggara. Sedangkan, peradaban Cina, telah berkembang sejak 1500SM dan juga diperkirakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Selain itu, menurut Christopher Dawson, ”..agama-agama besar adalah bangunan-bangunan bagi peradaban-peradaban besar...” atau dengan kata lain agama dalam karakteristik utamanya mencirikan suatu peradaban. Weber dalam hal ini, menyatakan empat dari lima agama besar di dunia diasosiasikan dengan peradaban utama, seperti Kristen, Islam, Hindu dan Confusianisme.

 

Jadi,bila mengaitkan kebutuhan manusia dan peradaban, maka setiap masyarakat dan kebudayaan di dunia memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda sesuai dengan cara hidup, organisasi sosial mereka masing-masing, yang kemudian membentuk kebudayaan dan selanjutnya membentuk peradaban. Contoh dalam kebudayaan dan peradaban Barat, manusia yang dianggap beradab adalah manusia yang berpendidikan, memiliki sopan santun dan berbudaya. Tetapi sebaliknya, bangsa Eropa di masa lalu menjelaskan orang-orang di luar Eropa sebagai bangsa yang buas (barbar) yang tidak memiliki peradaban (uncivilized). Karena adanya tolok  ukurpenilaian yang sangat berbeda dengan tolok ukur penilaian bangsa lain di luar Eropa, seperti suku2 Indian dalam konteks kehidupan sehari-hari pada masa itu. Tingkah laku dan cara hidup orang Indian ini dianggap bertentangan dengan norma-norma kesopanan dan kehalusan budi di dalam peradaban Barat. Jadi, ketika koloni-koloni Barat dibangun di wilayah Amerika, suku2 Indian dipaksa untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam peradaban bangsa Eropa tersebut, yang tujuannya agar mereka lebih beradab menurut kacamata masyarakat Barat.

 

Dalam peradaban, hal penting lain yang perlu dikaji adanya tradisi tulis dbaca (lettered – melek huruf) dan hal berkaitan dengan aspek mitos, religi, bahasa, seni dan ilmu pengetahuan yang merupakan faktor-faktor penting pembentuk sebuah peradaban suatu masyarakat, selain daripada manusia mempunyai akhlak, sopan santun dan memiliki budi pekerti. Sebenarnya semua hal ini sejalan dengan uraian Koentjaraningrat (1981: 10) tentang peradaban (civilization) yang tertera sebagai berikut:

 

”...istilah peradaban dapat kita sejajarkan dengan kata asing ’civilization’. Istilah itu biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks...Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks...”

 

Berdasarkan uraian di atas, peradaban oleh Koentjaraningrat dilihat bagian dari suatu kebudayaan yang memiliki beberapa unsur kebudayaan yang khas yang bersifat halus, indah, dan kompleks. Hal ini seperti dalam seni bangunan , sistem teknologi, ilmu pengetahuan yang sudah sangat maju dan sangat kompleks, misal peradaban Mesir kuno.

 

Berbicara perubahan, dapat menyangkut tentang berbagai hal, baik perubahan fisik oleh proses alami dan proses perubahan yang ada dalam kehidupan manusia karena dinamika kehidupan itu sendiri. Perubahan yang menyangkut kehidupan manusia ini atau terkait dengan lingkungan kehidupannya yang berupa fisik, alam dan sosial disebut perubahan sosial. Perubahan sosial tidak dapat dipelajari terlepas dari lingkupnya, yaitu masyarakat. Tetapi suatu perubahan sosial, tidak selalu merupakan suatu perubahan kebudayaan, walaupun kedua jenis perubahan itu mungkin berjalan bersamaan. Perubahan sosial menurut Robert H Lauer L adalah perubahan penting daristruktur sosial yang berupa pola-pola perilaku dan interaksi sosial. Tercakup di dalamnya berbagai pernyataan tentang struktur seperti norma, nilai dan gejala budaya lainnya.

 

Sedangkan perubahan kebudayaan merupakan perubahan yang terjadi pada sistem budaya, bahasa, kesenian dan cita rasa pada suatu masyarakat. Perubahan sistem budaya yang dimaksud adalah perubahan pada sejumlah nilai-nilai, norma-norma yang penting di suatu masyarakat. Proses perubahan kebudayaan ini biasanya memakan waktu cukup lama dan biasanya merupakan kelanjutan dari perubahan sosial.

 

Kehidupan manusia adalah proses dari satu tahap hidup ke tahap hidup lainnya. Karena itu, perubahan sebagai proses dapat menunjukkan perubahan sosial dan perubahan kebudayaan atau keduanya pada satu runtunan proses tersebut.

 

Perubahan sosial dan kebudayaan terjadi, dan salah satunya dalam bentuk proses modernisasi. Modernisasi merupakan usaha sesuai dengan zaman konstelasi hidup yang berlangsung sekarang, bahkan antisipasi terhadap perkembangan serta arus kemajuan yang terus berlangsung. Usaha tersebut bukan suatu kinerja yang spontan, tanpa kemampuan dan tidak bermutu, melainkan merupakan suatu penampilan yang penuh keyakinan dan percaya diri akan kemajuan dan pembaruan yang wajib dilakukan. Kemudian, dalam teori modernisasi, suatu negara terbelakang akan menempuh jalan sama dengan negara industri maju di Barat, sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang melalui proses modernisasi. Proses transisi dari keadaan yang tradisional ke modernitas melalui beberapa proses, yaitu antara lain proses revolusi demografi, terbukanya sistem stratifikasi, ada peralihan dari struktur feodal ke birokrasi, menurunnya pengaruh agama, beralihnya fungsi pendidikan dari keluarga dan komunitas ke sistem pendidikan yang formal, munculnya kebudayaan massa dan munculnya perekonomian pasar serta industrialisasi.

 

Berbicara perubahan, kita dapat berbicara tentang proses evolusi pula yang merupakan suatu proses perubahan dan perkembangan yang berjalan secara lambat dari sesuatu yang sederhana menuju ke arah yang lebih kompleks, memakan waktu yang panjang dan biasanya melalui berbagai tahapan diferensiasi yang sambung menyambung. Proses evolusi ini dapat bersifat linear, seperti suatu pergerakan dari suatu titik ke titik lainnya dalam satu garis saja. Jadi arah perkembangan mengikuti suatu pola yang pasti. Tetapi, proses ini dapat pula bersifat multilinear, yaitu suatu proses perubahan yang mengikuti suatu garis, yang kemudian pada suatu titik tertentu, garis tersebut pecah menjadi cabang-cabang dan kemudian begitu seterusnya. Contohnya proses evolusi manusia yang terjadi ribuan tahun yang lalu, dari makhluk primata menjadi manusia (homo sapiens).

 

Selain itu, dalam proses perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, adanya proses globalisasi yang dijelaskan sebagai arus informasi dan komunikasi tanpa batas terhadap kehidupan masyarakat di dunia. Arus informasi yang berkembang cepat menumbuhkan cakrawala pandangan manusia yang semakin terbuka menembus batas daratan, perairan dan udara di bumi ini Selain itu, globalisasi dapat dilihat sebagai proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat dunia yang ditandai oleh adanya kesenjangan besar antara kekayaan dan tingkat hidup masyarakat-masyarakat industri dan masyarakat-masyarakat di Dunia Ketiga. Proses globalisasi biasanya berlangsung pada tiga bidang kehidupan, yaitu perekonomian, politik dan budaya.

 Sumber : Inisiasi 2/ISBD

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">
   

Pengunjung

    56.417