Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Kasus Analisis Umum KAA 2015

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 17 January 2017
di mahasiswa - 0 komentar

  1. Tiger Airways Holdings, Ltd perusahaan asal Singapura yang merupakan anak perusahaan Singapore Airlines menurunkan harga tiket rata-rata 22,2% yang mampu meningkatkan jumlah penumpang sebesar 53,8%. Selanjutnya pendapatan naik sebesar 28,6% dan menurunkan biaya yang mampu dikontrol sebesar 15,1%. Hal ini pada akhirnya memicu peningkatan laba bersih perusahaan secara keseluruhan. Bagaimanakah strategi model bisnis yang diambil Tiger Airways Holdings, Ltd?

Analisis:

Strategi Cost Leadership

Tiger Airways menyediakan jasa penerbangan level dasar dan membebankan biaya pada penumpang untuk jasa penerbangan tambahan lainnya, sehingga mampu mengurangi biaya dan meningkatkan pendapatan. Tiger Airways menggunakan aplikasi Cost Volume Profit dengan menggunakan pertimbangan berikut ini:

  1. Harga Jual
  2. Volume penjualan
  3. Biaya variabel unit
  4. Biaya tetap total
  5. Bauran produk yang dijual

 

       2. Kalangan pengusaha yang familiar dengan utang luar negeri harus putar otak untuk menyiasati mata uang rupiah yang masih terkapar dimana semula Rp 9.000/US$ menjadi kisaran Rp 13.000/US$. Bank Indonesia merekomendasikan hedging atas semua transaksi yang menggunakan valuta asing. Masihkah hedging menjadi penyelamat perusahaan?

Analisis:

Mekanisme hedging masih merupakan upaya yang tepat di tengah volatilitas nilai tukar walaupun mahal tetapi akan lebih meringankan beban perusahaan.

Hedging dimaksudkan untuk melindungi perusahaan terhadap fluktuasi harga mata uang asing dan mengurangi tekanan risiko yang berhubungan dengan perubahan kurs dan dapat membantu perusahaan mencapai hasil yang direncanakan. 

 

       3. Sektor bisnis dan industri saat ini menghadapi revolusi Industri 3.0 dimana merupakan era Internet of Things (IoT). Penulis Competitive Strategy, Michael Porter menjelaskan tiga strategi generik: diferensiasi, biaya dan fokus. Masih relevankah strategi tersebut di era IoT?

Analisis:

Untuk beberapa industri, strategi tersebut masih berlaku. Namun dalam industri yang semakin terkoneksi maka diferensiasi, biaya dan fokus tidak lagi saling eksklusif. Ketiganya bisa saling menguatkan dalam menciptakan nilai.

Revolusi Industri yang terjadi di Inggris pada abad ke-18 disebut dengan Revolusi Industri 1.0 yang diinisiasi penemuan mesin uap oleh James Watt. Revolusi tersebut membawa dunia menjadi lebih modern. Revolusi ini juga akhirnya menciptakan sistem ekonomi baru yang membawa perubahan pada strata sosial secara global. Dua kelas sosial yang saling bertolak belakang, kaum kapitalis dan kaum buruh terbentuk akibat Revolusi Industri tersebut.

 Kemudian, penemuan komputer di masa Perang Dunia ke-2 menjadi penanda revolusi industri jilid 2 disebut dengan Revolusi Industri 2.0. Otomatisasi untuk banyak proses telah membawa pergeseran model bisnis secara global. Peran tenaga kerja manusia menjadi semakin berkurang diambilalih oleh teknologi. Revolusi ini memunculkan eksistensi konglomerasi baru yakni para pemilik komputer yang berhasil memaksakan temuannya sebagai nilai tambah yang diterima menjadi tatanan global baru.

Saat ini, gejolak modernisasi model baru tersebut mengarahkan pada bergulirnya Revolusi Industri 3.0. Era ini dikenal dengan era ekonomi digital yang diinisiasi dengan ditemukannya internet. Kondisi tersebut memunculkan inovasi model bisnis yang baru lagi dan membuat dunia makin terkoneksi tidak terbatas dalam bingkai bisnis internasional.

 

        4. Kementerian kesehatan berupaya meningkatkan mutu tata kelola bagi instansi di bawah pengawasannya dengan Badan Layanan Umum. Perubahan ini dimaksudkan untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas entitas pelayanan publik tersebut. Salah satu implikasi kebijakan tersebut adalah Puskesmas secara bertahap akan menjadi Badan Layanan Umum. Layakkah Puskesmas untuk menjadi Badan Layanan Umum?

Analisis:

Pendapatan Puskesmas hanya 5% dari total belanja maka tidak selayaknya menjadi Badan Layanan Umum.

Badan Layanan Umum merupakan status instansi pemerintahan yang diberikan kelonggaran dalam melakukan tata kelola operasionalnya. Motivasi utama dari pembentukan Badan Layanan Umum ini salah satunya untuk meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang berimplikasi langsung pada penyediaan layanan yang prima. 

 

       5. Program Reinventing Policy on Tax Administration tahun 2015 atau yang lebih dikenal dengan Sunset Policy jilid 2 yang diatur secara teknis dalam PMK No. 91//PMK.03/2015 merupakan salah satu program andalan DJP untuk mengejar penerimaan pajak. Efektifkah kebijakan program ini dalam meningkatkan penerimaan pajak?

Analisis:

PMK No. 91//PMK.03/2015 tentang Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi atas Keterlambatan Penyampaian SPT, Pembetulan SPT dan Keterlambatan Pembayaran atau Pembayaran Pajak

Ada beberapa hal yang harus dipastikan antara lain:

  1. Kebijakan ini jangan sampai mempengaruhi kinerja WP, tapi justru meningkatkan dan menumbuhkan bisnisnya

      2. Kebijakan ini perlu dikaji apakah dapat menjadikan WP lebih patuh atau tidak 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    56.372