Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Menyeleweng dari Cita-Cita 1945

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 13 September 2014
di Sejarah Nasional Indonesia - 0 komentar

Sampai saat didekritkan berlakunya kembali UUD 1945 , keadaan ekonomi dan keuangan pemerintah sangat suram, akibat pecahnya pemberontakan PRRI-Permesta. Tindakan pertama yang dilakukan oleh pemerintah adalah melaksanakan serangkaian tindakan bidang ekonomi dan keuangan. Pada tanggal 24 Agustus 1959 uang kertas yang mempunyai nilai nominal Rp 500,00 dievaluasi menjadi Rp 50,00 dan yang bernilai Rp 1.000,00 dihapuskan. Semua simpanan dalam bank yang melebihi 25.000,00 dibekukan. Usaha pemerintah ini tidak dapat menghentikan kemerosotan ekoomi yang semakin jatuh. Indeks biaya hidup menunjukkan perkembangan menaik, dalam tahun 1961-1962 mengalami kenaikan 70% yang berarti mengalami kenaikan 225% dari indeks tahun 1960.

Untuk menanggulangi keadaan Ekonomi yang semakin suram, pada tanggal 28 maret 1963 dikeluarkan landasan baru bagi perbaikan ekonomi secara menyeluruh, yaitu "Deklasrasi Ekonomi" atau "Dekon", beserta 14 peraturan pokoknya.

Dekon dinyatakan sebagai strategi dasar ekonomi Indonesia yang menjadi bagian strategi umum Revolusi Indonesia. Tujuan Dekon adalah "Menciptakan ekonomi yang bersifat nasional,demokratis dan bebas dari sisa-sisa imperialisme , untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin". Konsepsi Dekon ini di dalam pelaksanannya membawa akibat stagnasi bagi ekonomi Indonesia. Pada tanggal 26 Mei 1963 dikeluarkan 14 pokok peraturan , tetapi peraturan-peraturan itu sendiri dalam pelaksanaannya bertentangan dengan prinsip-prinsip Dekon. Di dalam praktek kesulitan-kesulitan ekonomi bertambah menyolok. Pada tahun 1961-1962 harga-harga pada umumnya naik menjadi 400%. Kondisi Politis, yakni konfrontasi dengan negara-negara Barat dan Malaysia, melibatkan Indonesia ke dalam situasi perang yang mempercepat proses kemerosotan ekonomi. Di dalam melaksanakan ekonomi terpimpin ini pemerintah lebih menonjolkan "terpimpinnya" daripada asas-asas ekonominya. Akibatnya ialah bahwa bidang kelembagaan ekonomi semakin terjerumus ke dalam kebiasaan yang unsur terpimpinnya lebih dominan daripada unsur ekonominya yang efisien. Struktur ekonomi Indonesia mengarah kepada etatisme (segala-galanya diatur atau dipegang oleh negara). Ekonomi terpimpin ala Dekon lebih bersifat ekonomi peraturan yang menjurus menjadi ekonomi-anarchi. Pengeluaran negara bertambah besar karenaprinsip-prinsip ekonomi diabaikan. Defisit dari tahun meningkat 40 kali dari Rp 60,5 milyar menjadi Rp2.514 milyar . Sedang penerimaan negara pada tahun 1960 Rp 53.6 milyar, hanya meningkat 17 kali pada tahun 1965 menjadi 923.4 milyar.Defisit yang semakin meningkat ditutup dengan pencetakan uang baru tanpa perhitungan bahwa hal itu menambah beratnya inflasi.

Pada tahun 1966 inflasi mencapai 600%. Berdasarkan Penetapan Presiden No. 8/1965 tanggal 11 mei 1965 organisasi bank-bank pemerintah dipusatkan kedalam satu tangan , yaitu ditangan Menteri urusan Bank Sentar. Bank-bank pemerintah menjadi unit-unit daripada Bank Negara Indonesia. Tindakan ini menyebabkan timbulnya spekulasi dan penyelewengan penggunaan uang negara karena tidak adanya kontrol.

Adapun sebab-sebab pokok kegagalan ekonomi terpimpin yang berlandaskan Dekon adalah :

1. penanganan masalah ekonomi tidak rasional , lebih bersifat politis dan tidak ada kontrol

2. tidak adanya ukuran yang objektif didalam menilai sesuatu usaha atau hasil oarang.

Dilihat dalam keseluruhannya , gambaran ekonomi kita pada masa Demokrasi Terpimpin merupakan gambaran yang paling suram didalam sejarah Republik Indonesia. Volume uang yang meningkat akibat defisit dan arus uang yang cepat tidak membangkitkan produksi atau melancarkan arus barang. Arus barang mundur akibat kurangnya produksi dalam negeri sebagai akibat kurangnya spareparts. Kepentingan rakyat dikorbankan dengan dihentikannya impor beras, sedang devisa digunakan untuk tujuan-tujuan politik sperti membiayai perjalanan delegasi-delegasi asing.

dikutip dari : Sejarah Nasional Indonesia 3, Nugroho Notosusanto,dkk.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">
   

Pengunjung

    56.361