Wanda Dwi Ramadhan

AKS0 2014, Fakultas Vokasi , Universitas Airlangga

Waktu

Politik Luar Negeri Nefo-Oldefo

diposting oleh wandadr-vokasi14 pada 13 September 2014
di Sejarah Nasional Indonesia - 0 komentar

Pada masa demokarasi terpimpin kebijaksanaan politik luar negeri banyak terpusat di tangan Presiden SOekarno sendiri. Politik bebas aktif dibelokkan menjadi politik konfrontasi terhadap apa yang disebut Old Established Forces (Oldefo) bersama-sama dengan New Emerging Forces (Nefo). Nampak bahwa konsepsi ini adalah sejajar dengan doktrin "dua buku" kaum komunis. Dan memang negara-negara maupun golongan Nefo adalah kurang lebih sama dengan yang oleh blok komunis dimasukkan ke dalam kelompok komunis dan "progresif", sedangkan yang masuk blok kapitalis imperalis "reaksioner" barat bersama pihak-pihak yang bersimpati kepada mereka.

Hubungan dengan pihak barat merenggang, karena mereka bersikap pasif terhadap perjuangan pembebasan Irian. Sebaliknya hubungan dengan blok timur semakin erat, karena Uni Sofyet bersedia memberi kredit dalam pembelian peralatan militer sehingga indonesia dapat memperlengkapi Angkatan Perangnya secara modern. Sekalipun Wilayah Irian akhirnya berhasil kita kuasai , politik konfrontasi berjalan terus. Sasarannya adalah pembentukan Federasi Malaysia yaitu penggabungan antara negara bekas jajahan inggris di Asia Tenggara yang terdiri atas persatuan Tanah Melayu, Singapura, Sabah dan Serawak, yang oleh Presiden Soekarno dianggap membahayakan Indonesia dan Nefo pada umumnya. Dalam kenyataannya Malaysia sebagai negara yang rakyatnya pada umumnya serumpun dan seagama dengan Indonesia , tidak mempunyai rasa permusuhan terhadap kita. Lagi pula mereka juga tidak ingin mencoba boneka Neo-kolonialisme/Imperealisme (Nekolim) seperti yang dikatakan oleh Presiden Soekarno. Sebaliknya yang untung karena konfrontasi itu adalah Republik Rakyat Cina (RRC) yang memang tidak menyukai pemimpin-pemimpin Malaysia dan sebalikya mendukung pemberontak Cina komunis di negara tetangga itu.

 

Dalam rangka konfrontasi itu pada tanggal 31 mei 1964 di Jakarta Presiden Soekarno mengucapkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yakni :

1. Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia

2. Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak, Bruei , untuk membubarkan negara boneka Malaysia.

Untuk melaksanakan politik konfrontasi terhadap Malaysia itu dibentuk Komando Mandala Siaga (Kolaga) di bawah pimpinan Marsekal Madya Omar Dani, Menteri/Panglima Angkatan Udara (yang kemudian terlibat di dalam pemberontakan Gestapu/PKI). Komando ini mengirimkan pasukan sukarelawan memasuki daerah Malaysia, baik di Malaysia Barat maupun Timur.

Aspek lain dari pelaksanaan politik Nefo-Oldefo ini kita kenal dengan politik "Mercusuar". Presiden Soekarno berpendapat bahwa Indonesia merupakan mercusuar yang dapat menerangi jalan bagi Nefo di seluruh dunia. Karena itu Indonesia harus menyelenggarakan proyek-proyek politis yang kolosal dan spektakuler, yang diharapkan dapat menempatkan kita pada kedudukan terkemuka dikalangan Nefo. Misalnya dengan menelan biaya beberapa milyar rupiah diselenggarakan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang dimulai dengan pembangunan kompleks olah raga senayan dan meliputi pula biaya perjalanan bagi delegasi asing. Ekonomi Indonesia yang sudah berantakan itu sama sekali tidak mampu mebiayai proyek-proyek itu dan kegiatan pemerintah mencetak uang kertas tanpa batas dan tanpa dukungan apa-apa, menyebabkan inflasi sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Akibatnya ialah bahwa rakyat keil tertimpa bencana karena uang di kantongya nilainya merosot dengan pesat.

Pengiriman delegasi-delegasi besar ke berbagai negara maupun mendatangkan delegasi asing atas biaya kita, juga tambah merusak keuangan negara. Demikian pula pembangunan pabrik-pabrik dilakukan tanpa perencanaan yang matang baik mengenai letak maupun pembiayaan , sehingga usaha itu macet di tengah jalan dan banyak perlengkapan menjadi besi tua. Jelas bahwa politik luar negeri mercusuar mengorbankan kepentingan nasional padahal politik luar negeri seharusnya mendukung kepentingan rakyat, mendukung pembangunan nasional untuk masa depan kita semuanya.

dikutip dari : Sejarah Nasional Indonesia 3, Nugroho Notosusanto,dkk.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">
   

Pengunjung

    56.362